Showing posts with label Kaki. Show all posts
Showing posts with label Kaki. Show all posts

Sunday, November 29, 2009

Misteri jejak-jejak kaki setan Devon

Pada tanggal 5 Maret 2009, Jill Wade dari Devon, Inggris, dikejutkan dengan adanya jejak-jejak misterius di atas salju di kebun belakang rumahnya. Jejak-jejak ini mengingatkannya kepada sebuah misteri yang terjadi lebih dari 150 tahun yang lalu.

Jill yang telah berusia 76 tahun berkata:

"Aku melihat ke kebun belakang rumahku dan sangat terkejut. Aku benar-benar tidak bisa mempercayainya. Jejak-jejak kaki itu berbentuk kuku belah dan tidak ada jejak lain di atas salju."



Jejak di kebun belakang rumah Jill Wade

Penemuan Jill segera menarik perhatian Centre for Fortean Zoology (CFZ), sebuah organisasi Cryptozoology, yang segera mengirim tim untuk memeriksa jejak-jejak tersebut. Jika mereka berhasil memecahkan misteri ini, mungkin mereka juga akan memecahkan misteri serupa yang telah berusia lebih dari 150 tahun, yaitu misteri jejak-jejak kaki setan Devon.

Mari kita flashback 156 tahun ke belakang.

Pada tanggal 8 Februari 1855, salju tebal turun di Devon selatan selama seharian. Hujan salju itu baru berhenti kira-kira pada tengah malam dan saat itu para penduduk Devon sudah lelap dalam tidurnya. Namun, sesuatu sedang terjadi di luar.

Pagi harinya, para penduduk mulai bersiap untuk melakukan aktivitasnya.

Tiba-tiba mereka melihat ada sesuatu yang tidak biasa di atas permukaan salju.

Mereka menemukan jejak-jejak aneh!

Jejak-jejak itu memiliki pola seperti kuku belah. Saksi lain mendeskripsikan bentuknya seperti huruf U atau seperti tapal kuda. Ukuran panjangnya adalah 4 cm hingga 6,25 cm dan jarak antara jejak kaki sekitar 20 cm.

Tidak ada jejak lain di permukaan salju.

Hebatnya, jejak-jejak tersebut terlihat hingga 160 km jauhnya dari Exmouth hingga Topsham.

Apa yang lebih membingungkan adalah letak jejak-jejak tersebut.

Pada beberapa lokasi, jejak-jejak tersebut terlihat menghampiri pintu rumah penduduk, namun kembali menjauh.

Di tempat lain, jejak tersebut terlihat di atap rumah.

Lalu, ada juga jejak yang terlihat menghadap sebuah tembok setinggi 4 meter dan muncul di sisi lain dari tembok, seakan-akan mahkluk tersebut berjalan menembus tembok.

Di sungai Exe, jejak tersebut terlihat pada dua sisinya, entahkah makhluk itu menyeberangi sungai tersebut atau ada dua makhluk yang berjalan di kedua sisi sungai.

Makhluk apakah yang telah menciptakan jejak-jejak tersebut?

Setelah pagi itu, berita mengenai fenomena jejak kaki misterius telah menyebar hingga ke luar Devon.

Harian Times of London mendeskripsikan jejak tersebut sebagai berikut:

"Jejak itu lebih mirip makhluk yang berjalan dengan dua kaki dibanding makhluk yang berjalan dengan empat kaki dengan jarak antara jejak sekitar 8 inci. Kesan yang bisa ditangkap dari jejak tersebut adalah mirip dengan sepatu keledai."


Jika yang bertanggung jawab atas jejak tersebut adalah seekor hewan, maka para penduduk tidak pernah tahu hewan yang bisa meninggalkan jejak seperti itu. Jadi, rumor pun beredar.

Devon disebut-sebut kedatangan makhluk misterius yang tidak dikenal!

Karena faktor ini, beberapa pemuka agama menduga kalau jejak kaki tersebut ditinggalkan oleh setan yang sedang berkeliaran mencari para pendosa. Ide ini tentu saja ditolak oleh banyak orang. Namun dugaan ini memberikan nama untuk fenomena ini, yaitu Jejak-jejak kaki setan Devon.

Ketika mendengar istilah jejak-jejak kaki setan, jangan membayangkan kalau jejak-jejak tersebut berukuran raksasa. Ukuran panjangnya hanya 4-6 cm sehingga cukup masuk akal jika kita beranggapan jejak ini diciptakan oleh hewan.

Dan itulah yang segera dilakukan oleh beberapa orang yang menolak teori jejak setan. Mereka bergegas memberikan dugaan yang lebih rasional.

Misalnya Pendeta G.M Musgrave yang kemudian segera mengirim surat kepada harian Illustrated London news untuk memberitahukan mengenai adanya dua ekor kanguru yang terlepas dari kebun binatang pribadi milik Mr. Fische di Sidmouth.

Tetapi kalau memang ada kanguru yang terlepas, mengapa dua hewan ini tidak terlihat oleh penduduk desa?

Bahkan tidak ada kepastian lebih lanjut apakah benar-benar ada kanguru yang terlepas atau tidak sehingga berita itu kemudian hanya dianggap sebagai rumor.

Sir Richard Owen, seorang ahli biologi kenamaan, percaya kalau jejak itu ditinggalkan oleh seekor Badger (Hewan sejenis Musang) yang berkeliaran di desa untuk mencari makan. Menurutnya, jejak yang aneh itu tercipta karena kebiasaan hewan itu menaruh kaki belakangnya ke jejak yang dibuat oleh kaki depan.


Badger - Hewan sejenis Luwak

Namun, Sir Owen tidak pernah secara langsung mengobservasi jejak tersebut dan mendasarkan teorinya hanya pada deskripsi para saksi. Dan memang, teorinya tidak terbukti.

Selain Badger, ada yang menyebutkan racoon, keledai, tikus, berang-berang ataupun hewan lainnya. Sayangnya, tidak ada satupun diantara hewan tersebut memiliki jejak kaki yang serupa dengan jejak kaki Devon.

Sebagian lain percaya kalau jejak-jejak kaki tersebut dibuat oleh seorang iseng yang mungkin ingin menciptakan kehebohan. Namun teori ini memiliki kelemahan. Jika memang jejak itu dibuat oleh orang yang iseng, mengapa tidak terlihat adanya jejak lainnya di atas salju? Bagaimana bisa jejak tersebut terlihat hingga 160 km? Dan jika memang orang itu hendak menciptakan kehebohan, mengapa ia tidak menciptakan jejak kaki yang lebih besar dan lebih mengerikan seperti jejak harimau?

Jadi, misteri ini tetap tidak terpecahkan. Usaha untuk memberikan penjelasan rasional atas peristiwa ini berlangsung hingga abad 20 ketika sejumlah penulis modern mencoba untuk menawarkan alternatif penjelasan.

Misalnya, pada tahun 1985, terbit sebuah buku berjudul "The Devil's Footprints: The Great Devon Mystery as it was reported in the newspapaer of 1855" yang ditulis oleh Geoffrey Household.

Dalam bukunya, ia mengajukan teori kalau jejak-jejak aneh tersebut mungkin telah diciptakan oleh sebuah balon eksperimen. Ia mengaku mendapatkan informasi kalau sebuah balon telah terlepas tanpa sengaja dari galangan kapal Devonport. Balon itu terikat dengan sebuah tali yang menggantung dengan besi di ujungnya. Besi inilah yang dianggapnya telah membuat jejak-jejak misterius tersebut.

Sumber Household adalah seorang pria lokal bernama Major Carter yang mengetahui hal ini dari kakeknya yang bekerja di galangan kapal itu. Menurutnya, pada waktu itu, informasi ini dirahasiakan karena balon itu juga merusak beberapa rumah kaca dan jendela rumah penduduk sebelum akhirnya jatuh di Honiton.

Tetapi, pertanyaannya adalah, bagaimana mungkin sebuah balon bisa menciptakan jejak yang konsisten dengan jarak 8 inci (20 cm)? atau jejak yang sampai ke pintu rumah penduduk dan kembali? Apakah balon itu memiliki kecerdasan artifisial yang membuatnya bisa berpikir?

Penulis lain, Mike Dash, yang menulis sebuah artikel mengenai jejak setan Devon di Fortean Studies, percaya kalau jejak tersebut ditinggalkan oleh hewan pengerat yang melompat seperti tikus hutan. Tidak heran kalau jejak-jejak ini juga bisa ditemui di atap rumah. Menurutnya, jejak yang ditinggalkan oleh lompatan tikus sangat mirip dengan jejak hewan berkuku belah karena pergerakan otot kakinya ketika melompat.

Teori ini bukan sesuatu yang baru karena memang sudah sering disinggung sebelumnya. Namun, sekali lagi, tidak ada hewan pengerat yang diketahui memiliki jejak seperti itu.

Penulis lain, seperti Joe Nickell yang skeptis, lebih percaya kalau kisah ini hanyalah sebuah hoax. menurutnya, bagaimana mungkin jejak itu bisa mencapai 160 km? Apakah ada penduduk yang mengikuti jejak tersebut hingga 160 km pada hari itu?

Cukup masuk akal. Namun, dokumentasi mengenai peristiwa ini cukup lengkap sehingga jika kisah ini sebuah hoax, maka pastilah hoax tersebut diciptakan oleh media yang terbit pada tahun itu. Tetapi pandangan ini pun tidak didasarkan atas bukti yang kuat.

Pandangan lain yang mirip dengan Joe adalah: jejak ini tercipta akibat histeria massa. Mungkin para penduduk telah melihat jejak-jejak hewan yang beragam dan menganggapnya sebagai jejak yang sama. Joe juga beranggapan seperti itu. menurutnya, deskripsi saksi yang berbeda-beda membuat kemungkinan ini menjadi lebih kuat.

Tentu saja teori ini adalah jalan keluar yang paling gampang. Namun, bagi peneliti lain, misteri ini menarik karena mungkin ada makhluk cryptid yang hidup di Devon. Selain itu, walaupun kasus Devon adalah yang paling terkenal, misteri sejenis ini ternyata juga pernah disinggung dalam beberapa catatan sejarah lainnya.

Salah satu penulis yang pernah menyinggungnya adalah Ralph of Coggeshall, seorang penulis yang hidup pada abad ke-13. Dalam tulisannya, Ralph menceritakan mengenai sebuah peristiwa yang terjadi pada tanggal 19 Juli 1205 dimana jejak-jejak kaki misterius muncul setelah terjadi badai.

Lalu, Kapten Sir James Clark Ross, komandan kapal yang pernah menjelajah kutub selatan. Ia juga menceritakan peristiwa yang serupa. Pada Mei 1840, kapal mereka mendarat di pulau Kerguelen dan menemukan adanya jejak-jejak misterius di salju tanpa melihat adanya hewan yang bertanggungjawab atas jejak-jejak tersebut.

Dalam bukunya yang berjudul "Voyage of Discovery and Research in the Southern and Antarctic Regions", Kapten Ross menulis:

"Kami tidak melihat satu pun hewan darat. Dan kami menemukan jejak yang mirip dengan jejak keledai yang ditemukan oleh tim yang dipimpin oleh Letnan Bird. Jejak itu dideskripsikan oleh Dr. Robertson sebagai jejak yang berukuran lebar 3 inci dengan kedalaman sekitar 2,5 inci. Jejak itu juga memiliki tekanan di masing-masing sisi dan bentuknya terlihat seperti tapal kuda."

"Sangat tidak mungkin kalau hewan itu berasal dari kapal yang terdampar. Mereka mengikuti jejak itu selama beberapa jauh dengan harapan melihat hewan yang menciptakannya, namun tidak menemukan apa-apa hingga sampai ke daratan berbatu yang tidak bersalju."


Mungkin peristiwa-peristiwa yang disinggung Coggeshall dan Kapten Ross tidak ada hubungannya dengan peristiwa Devon. Namun jika sebuah fenomena misterius terjadi beberapa kali, maka ada sesuatu yang perlu diselidiki. Karena itu, ketika Jill Wade menemukan jejak-jejak misterius di kebun belakang rumahnya, antusiasme segera menjalar diantara para cryptozoologyst. Kali ini, mereka memiliki tempat kejadian perkara dengan jejak yang masih terlihat, mereka memiliki foto jejak tersebut dan mereka bisa memikirkan ulang misteri ini dengan mengacu kepada ilmu pengetahuan modern sambil berharap memecahkannya.

Jejak yang ditemukan Jill memiliki panjang 13 cm dan jarak antara jejak sekitar 28 sampai 43 cm. Ukuran ini tidak sesuai dengan jejak hewan yang dikenal saat ini. Tetapi Jonathan Downes dari CFZ optimis kalau misteri ini akan terpecahkan. Ia dan timnya sedang meneliti kemungkinan kalau jejak itu diciptakan oleh seekor kelinci yang cacat.

Ia juga berharap kalau misteri yang terjadi 156 tahun lalu ikut terpecahkan.

Mengenai Jejak di kebun belakang Jill, Downes berkata:

"Apakah aku percaya kalau setan telah datang dari lubang neraka dan berkeliaran di sebuah kebun di utara Devon? Tentu saja tidak.


"Jika kamu bertanya apakah ada hal-hal yang tidak bisa dijelaskan oleh ilmu pengetahuan modern, maka jawabannya adalah ya. Namun pengetahuan manusia selalu berkembang dan aku percaya kalau sesuatu yang saat ini dikategorikan sebagai fenomena paranormal, suatu hari nanti akan dapat dijelaskan oleh ilmu pengetahuan."


Apakah jejak kaki di kebun belakang rumah Jill memiliki hubungan dengan jejak kaki setan Devon tidak diketahui dengan jelas. Namun kita berharap penelitian CFZ akan membawa sedikit titik terang, paling tidak alternatif kemungkinan yang baru.

Mengenai penemuan jejak-jejak kaki misterius di atas salju ini, Rupert T. Gould pernah memberikan sebuah pertanyaan yang menarik:

"Aku berpikir, jika mereka menemukan makhluk itu, apakah yang akan mereka lihat?"

sumber
Description: Misteri jejak-jejak kaki setan Devon Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Misteri jejak-jejak kaki setan Devon

Thursday, September 10, 2009

Meadow, Sapi Pertama Yang Memakai Kaki Palsu

Meadow adalah nama seekor anak sapi pertama kali di dunia yang mengunakan dua kaki belakang palsu agar bisa kembali berjalan normal. Kaki Meadow terpaksa diamputasi karena kedua kuku kakinya mengalami frostbite (membusuk akibat kebekuan es).



Sapi yang kini berumur 11 bulan ini ditemukan pada Agusus lalu oleh Nancy Dickenson dan anaknya di sebuah ladang penggembalaan di timur laut New Mexico, Amerika Serikat (AS). Saat ditemukan, Meadow nyaris tidak bisa berdiri karena kedua kuku kaki belakangnya membusuk akibat kebekuan es. Untuk menyelamatkan Meadow agar bisa berjalan normal, Dickenson pun membeli hewan ternak dari pemiliknya dan segera membawa ke dokter hewan setempat.

Dokter hewan, dibantu mahasiswa Colorado State University, mengamputasi kedua kaki belakang Meadow dan menyiapkan kaki palsu yang sesuai dengan struktur tulang sapi. "Meadow merupakan sapi pertama di dunia yang memakai dua kaki palsu," kata Robert Callan, dokter hewan yang mengoperasi Meadow.

Dickenson menyatakan biaya operasi kaki palsu bagi Meadow mencapai ribuan dolar dan ditanggung penuh oleh dirinya dan keluarga. Nama Meadow yang berarti padang rumput ini diberikan Dickenson sesuai dengan lokasi saat sapi jenis black angus ini ditemukan.

Kini Meadow bisa berlari dan menyesuaikan diri dengan hewan ternak lain di Twin Willow, peternakan milik Dickenson. Saat para tetangga bertanya apakah sapi itu akan dipotong untuk diambil dagingnya, Dickenson menjawab, "Apakah Anda bercanda? Ini bayiku yang baru."
Description: Meadow, Sapi Pertama Yang Memakai Kaki Palsu Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Meadow, Sapi Pertama Yang Memakai Kaki Palsu

Thursday, July 23, 2009

Desain Kaos kaki yang unik

http://www.toxel.com/wp-content/uploads/2009/10/socks02.jpg
http://www.toxel.com/wp-content/uploads/2009/10/socks09.jpg
http://www.toxel.com/wp-content/uploads/2009/10/socks11.jpg
http://www.toxel.com/wp-content/uploads/2009/10/socks04.jpg

Sumber: kaskus.us
Description: Desain Kaos kaki yang unik Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Desain Kaos kaki yang unik

Thursday, June 11, 2009

Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat

Pameo yang mengatakan “nyawa ada di tangan Tuhan” sekonyong-konyong mengiringi hidup seorang peterjun bernama Paul Lewis. Betapa pun sebuah kejadian dramastis telah meregang nyawanya terjun dari ketinggian 10.000 kaki dengan payung tak mengembang sempurna dan jatuh di atap hanggar dengan kecepatan 120 mil per jam. Secara luar biasa, ia bisa lolos dari maut tanpa cedera serius.



Keajaiban sekaligus drama mengerikan ini terjadi pada Jum’at sore, 14 Agustus 2009, sekitar pukul 15.00 di areal Lapangan Terbang Tilstock, Whitchurch, Shropsire, Inggris. Hari itu, Lewis, 40 tahun, tengah bekerja sambilan sebagai peterjun cameraman untuk mengabadikan Haf Pugh, 20 tahun, yang akan menjajal terjun tandem untuk pertama kali.

Lewis yang pada dasarnya peterjun kawakan menghibur Pugh yang sudah terikat dengan temali kuat ke dada Martin Wilshaw, sang tandem master. Agar berani ‘menantang’ maut. Tak terbayangkan, justru Lewis lah yang harus ‘berurusan’ dengan maut, hari itu.

Di ketinggian 10.000 kaki (sekitar 3.300 m), setelah pilot Gippsland Airvan yang membawa mereka terbang memberi kode, Lewis terlebih dahulu melompat dari pesawat. Setelah itu, beberapa detik kemudian, Menyusul Martin dan Pugh. Pandangan Lewis terus tertuju ke pintu pesawat. Karena, memang hanya dengan cara itulah, lensa kamera akan mengabadikan saat-saat penting bagi Pugh.

Pada ketinggian 5.500 kaki, Martin lalu menarik pin dan mengeluarkan payungnya. Parasut warna biru terang Techno 128 buatan Perancis itu pun mengembang indah. Martin dan Pugh pun tersentak naik. Sejurus kemudian Martin lalu memberi kode kepada Lewis untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi Lewis masih ingin menikmati freefall-nya. “Saya masih meluncur 8-10 detik. Baru pada ketinggian 3.600 kaki, payung utama saya keluarkan. Tapi sesuatu telah terjadi. Tali parasut terpilin dan saya masuk spin. Saat itu saya masih bisa berpikir jernih. Payung segera saya putus (cut-away),” kisah Lewis.

Beberapa detik kemudian, payung cadangan dikeluarkan. Saat itu ketinggian sudah tinggal 2.900 kaki. Namun, kesialan tak bisa ditolak. Payung kedua pun mengalami twist alias terpilin. Beberapa teman Lewis yang saat itu berada di luar hanggar langsung menyatukan pandangannya ke atas mereka sangat cemas dan berharap ada keajaiban bagi sejawatnya yang periang itu.
Spin kedua, tak ayal membuat kepala Lewis pusing tujuh keliling. Tubuhnya seolah diputar paksa di udara. Darah pun seperti dipompa ke kaki. Kakinya spontan terasa berat dan kesemutan, sementara bagian tubuh lainnya seperti terbetot.

“Satu-satunya yang kuingat, yakni di ketinggian 2.400 kaki, hidupku serasa akan segera berakhir. Semua terasa gelap dan kesadaranku pun hilang,” kenangnya. Begitu pun, pada detik-detik terakhir, Lewis yang sehari-hari bekerja sebagai petugas sinyal kereta api, masih berusaha melepas parasutnya. Oleh karena koordinasi di seluruh bagian tubuhnya terganggu dan melemah, upaya ini pun tak bisa langsung dilakukan. Butuh waktu sekitar 15 detik.

Meski mengalami black-out, namun kamera yang terpasang di kepalanya bisa menceritakan ‘horor’ selama 15 detik itu. Dari video ini, dapat diketahui bahwa dalam keadaan tidak sadar, ia toh masih beberapa kali melihat ke bawah. Dalam video rekaman, ia sempat melihat atap hanggar tempat ia akan mendarat, nantinya.

Tidak sampai semenit, tubuh Paul Lewis sudah menghujam ke atap hanggar, menimbulkan bunyi yang memilukan. Lewis jatuh dengan posisi terlentang. Atap hanggar yang terbuat dari lempeng metal sampai penyok dan lucunya Paul Lewis sendiri mengatakan bahwa dia tak merasakan sakit dan tak merasakan benturan sama sekali.

Petugas pemadam kebakaran lalu berusaha mengevakuasinya dengan hati-hati. Mereka tak ingin kesalahan mengangkat membuat kerusakan tubuh Lewis semakin parah. Butuh dua jam untuk mengangkat dan memindahkan Lewis ke dalam ambulan. Setelah itu sang peterjun segera dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Hospital of North Staffordshire.

Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa kejadian yang dialami Paul Lewis adalah sebuah keajaiban, ia hanya mengalami cedera leher dan tidak ada patah tulang sama sekali.

Dua minggu atau tepatnya pada 30 Agustus 2009, Paul sudah bercanda kembali di rumah orang tuanya, di Prees, Shropshire. Ia pun kemudian memperlihatkan rekaman video 15 detik terakhir yang mengerikan itu kepada orang tua nya. Setelah kejadian ini Paul Lewis mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi mencoba keberuntungan sebagai peterjun dan akan menjual parasut serta peralatan kameranya.


Saat di ketinggian 10.000 kaki Paul mulai memfilmkan Pugh yang terikat pada sang tandem master di pintu pesawat....


Saat di ketinggian 2.900 kaki Paul mulai mengalami spin ketika parasut cadangannya terpilin.....


Saat di ketinggian 2.400 kaki Paul yang mulai hilang kesadaran jatuh menuju atap hanggar....


Akhirnya Paul mendarat tepat di atap hanggar.....


Petugas pemadam kebakaran berusaha menurunkan tubuh Paul dengan hati-hati.....


Setelah berhasil diturunkan dari atap hanggar kemudian Paul dibawa ke rumah sakit terdekat....


Saat Paul dirawat di rumah sakit dan ajaibnya ia hanya menderita cidera leher, beberapa memar, dan luka di tangan.....

sumber: http://haxims.blogspot.com/2010/03/ajaib-terjun-dari-10000-kaki-dengan.html
Description: Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat

Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat

Pameo yang mengatakan “nyawa ada di tangan Tuhan” sekonyong-konyong mengiringi hidup seorang peterjun bernama Paul Lewis. Betapa pun sebuah kejadian dramastis telah meregang nyawanya terjun dari ketinggian 10.000 kaki dengan payung tak mengembang sempurna dan jatuh di atap hanggar dengan kecepatan 120 mil per jam. Secara luar biasa, ia bisa lolos dari maut tanpa cedera serius.



Keajaiban sekaligus drama mengerikan ini terjadi pada Jum’at sore, 14 Agustus 2009, sekitar pukul 15.00 di areal Lapangan Terbang Tilstock, Whitchurch, Shropsire, Inggris. Hari itu, Lewis, 40 tahun, tengah bekerja sambilan sebagai peterjun cameraman untuk mengabadikan Haf Pugh, 20 tahun, yang akan menjajal terjun tandem untuk pertama kali.

Lewis yang pada dasarnya peterjun kawakan menghibur Pugh yang sudah terikat dengan temali kuat ke dada Martin Wilshaw, sang tandem master. Agar berani ‘menantang’ maut. Tak terbayangkan, justru Lewis lah yang harus ‘berurusan’ dengan maut, hari itu.

Di ketinggian 10.000 kaki (sekitar 3.300 m), setelah pilot Gippsland Airvan yang membawa mereka terbang memberi kode, Lewis terlebih dahulu melompat dari pesawat. Setelah itu, beberapa detik kemudian, Menyusul Martin dan Pugh. Pandangan Lewis terus tertuju ke pintu pesawat. Karena, memang hanya dengan cara itulah, lensa kamera akan mengabadikan saat-saat penting bagi Pugh.

Pada ketinggian 5.500 kaki, Martin lalu menarik pin dan mengeluarkan payungnya. Parasut warna biru terang Techno 128 buatan Perancis itu pun mengembang indah. Martin dan Pugh pun tersentak naik. Sejurus kemudian Martin lalu memberi kode kepada Lewis untuk melakukan hal yang sama.

Tetapi Lewis masih ingin menikmati freefall-nya. “Saya masih meluncur 8-10 detik. Baru pada ketinggian 3.600 kaki, payung utama saya keluarkan. Tapi sesuatu telah terjadi. Tali parasut terpilin dan saya masuk spin. Saat itu saya masih bisa berpikir jernih. Payung segera saya putus (cut-away),” kisah Lewis.

Beberapa detik kemudian, payung cadangan dikeluarkan. Saat itu ketinggian sudah tinggal 2.900 kaki. Namun, kesialan tak bisa ditolak. Payung kedua pun mengalami twist alias terpilin. Beberapa teman Lewis yang saat itu berada di luar hanggar langsung menyatukan pandangannya ke atas mereka sangat cemas dan berharap ada keajaiban bagi sejawatnya yang periang itu.
Spin kedua, tak ayal membuat kepala Lewis pusing tujuh keliling. Tubuhnya seolah diputar paksa di udara. Darah pun seperti dipompa ke kaki. Kakinya spontan terasa berat dan kesemutan, sementara bagian tubuh lainnya seperti terbetot.

“Satu-satunya yang kuingat, yakni di ketinggian 2.400 kaki, hidupku serasa akan segera berakhir. Semua terasa gelap dan kesadaranku pun hilang,” kenangnya. Begitu pun, pada detik-detik terakhir, Lewis yang sehari-hari bekerja sebagai petugas sinyal kereta api, masih berusaha melepas parasutnya. Oleh karena koordinasi di seluruh bagian tubuhnya terganggu dan melemah, upaya ini pun tak bisa langsung dilakukan. Butuh waktu sekitar 15 detik.

Meski mengalami black-out, namun kamera yang terpasang di kepalanya bisa menceritakan ‘horor’ selama 15 detik itu. Dari video ini, dapat diketahui bahwa dalam keadaan tidak sadar, ia toh masih beberapa kali melihat ke bawah. Dalam video rekaman, ia sempat melihat atap hanggar tempat ia akan mendarat, nantinya.

Tidak sampai semenit, tubuh Paul Lewis sudah menghujam ke atap hanggar, menimbulkan bunyi yang memilukan. Lewis jatuh dengan posisi terlentang. Atap hanggar yang terbuat dari lempeng metal sampai penyok dan lucunya Paul Lewis sendiri mengatakan bahwa dia tak merasakan sakit dan tak merasakan benturan sama sekali.

Petugas pemadam kebakaran lalu berusaha mengevakuasinya dengan hati-hati. Mereka tak ingin kesalahan mengangkat membuat kerusakan tubuh Lewis semakin parah. Butuh dua jam untuk mengangkat dan memindahkan Lewis ke dalam ambulan. Setelah itu sang peterjun segera dilarikan ke Rumah Sakit Universitas Hospital of North Staffordshire.

Dokter yang merawatnya mengatakan bahwa kejadian yang dialami Paul Lewis adalah sebuah keajaiban, ia hanya mengalami cedera leher dan tidak ada patah tulang sama sekali.

Dua minggu atau tepatnya pada 30 Agustus 2009, Paul sudah bercanda kembali di rumah orang tuanya, di Prees, Shropshire. Ia pun kemudian memperlihatkan rekaman video 15 detik terakhir yang mengerikan itu kepada orang tua nya. Setelah kejadian ini Paul Lewis mengatakan bahwa ia tidak ingin lagi mencoba keberuntungan sebagai peterjun dan akan menjual parasut serta peralatan kameranya.


Saat di ketinggian 10.000 kaki Paul mulai memfilmkan Pugh yang terikat pada sang tandem master di pintu pesawat....


Saat di ketinggian 2.900 kaki Paul mulai mengalami spin ketika parasut cadangannya terpilin.....


Saat di ketinggian 2.400 kaki Paul yang mulai hilang kesadaran jatuh menuju atap hanggar....


Akhirnya Paul mendarat tepat di atap hanggar.....


Petugas pemadam kebakaran berusaha menurunkan tubuh Paul dengan hati-hati.....


Setelah berhasil diturunkan dari atap hanggar kemudian Paul dibawa ke rumah sakit terdekat....


Saat Paul dirawat di rumah sakit dan ajaibnya ia hanya menderita cidera leher, beberapa memar, dan luka di tangan.....

sumber: http://haxims.blogspot.com/2010/03/ajaib-terjun-dari-10000-kaki-dengan.html
Description: Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Terjun dari 10.000 kaki Dengan Parasut Terpilin Tetap Selamat
Bang Rizal Proudly Powered by Blogger