Showing posts with label letusan. Show all posts
Showing posts with label letusan. Show all posts

Monday, November 30, 2009

Foto Letusan Merapi Dari Rekaman Satelit NASA

Gunung paling aktif di dunia, Merapi, saat ini sedang menggeliat. Masyarakat cemas menunggu, apakah ia akan meletus dan mengirimkan malapetaka berikutnya. Apalagi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVG) telah meningkatkan status Merapi menjadi Awas, terhitung sejak Senin 25 Oktober 2010.

Sejarah mencatat, sejak tahun 1548, Merapi sudah meletus sebanyak 68 kali--dengan letusan-letusan kecil terjadi tiap 2-3 tahun, dan yang lebih besar sekitar 10-15 tahun sekali. Letusan dahsyat pernah terjadi antara lain tahun 1006, 1786, 1822, 1872, dan 1930.

Letusan besar pada tahun 1006 membuat seluruh bagian tengah Pulau Jawa diselubungi abu. Di tahun 1930, letusan Merapi menghancurkan 13 desa dan menewaskan 1.370 orang.

Letusan terakhir Merapi terjadi tahun 2006 lalu. Pada 4 Juni 2006, dilaporkan bahwa aktivitas Gunung Merapi telah melampaui status 'awas'.

Foto letusan Merapi 6 Juni 2006

Kemudian pada 8 Juni 2006, Gunung Merapi pada pukul 09:03 WIB meletus dengan menyemburkan awan panas yang membuat ribuan warga di wilayah lereng panik dan melarikan diri ke tempat aman.

Fenomena letusan Merapi tak luput dari pantauan NASA. Badan Antariksa AS ini merekam kondisi Merapi melalui foto satelit. Foto pertama direkam alat Advanced Spaceborne Thermal Emission and Reflection Radiometer (ASTER) di satelit Terra milik NASA pada 26 April 2006.

Foto Merapi tanggal 26 April 2006

Foto itu menunjukkan awan panas muncul dari puncak Merapi, yang dikelilingi lava hitam dan puing-puing hasil erupsi sebelumnya. Lereng gunung tampak berwarna merah.

Foto kedua pada 6 Juni 2010 juga merupakan hasil bidikan ASTER. Warna merah dalam foto mengindikasikan vegetasi dan yang lebih cerah adalah tumbuhan. Awan digambarkan dengan warna terang atau putih buram. Sementara, awan vulkanis tampak berwarna kelabu suram yang bertiup ke arah barat daya.
sumber http://nasional.vivanews.com/news/read/184982-ini-foto-letusan-merapi-bidikan-nasa
Description: Foto Letusan Merapi Dari Rekaman Satelit NASA Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Foto Letusan Merapi Dari Rekaman Satelit NASA

Sunday, November 15, 2009

Melihat Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora


Sebagian dari kita tentu belum tahu kalau Gunung Tambora pernah tercatat sebagai gunung api tertinggi di Indonesia. Itu terjadi sebelum gunung tersebut meletus dahsyat pada April 1815.

Ketika itu puncak Gunung Tambora mencapai ketinggian sekitar 4.300 meter di atas permukaan laut (dpl). Bandingkan dengan daratan tertinggi di Indonesia saat ini, yakni Puncak Jayawijaya, Papua, yang berketinggian sekitar 3.050 m dpl.

Usai Tambora meletus hebat, daratan di bagian puncak itu dimuntahkan ke berbagai arah. Akibatnya, ketinggian gunung api yang masih tersisa tinggal setengahnya, yakni sekitar 2.851 m dpl.

Letusan yang amat mengerikan itu juga menyisakan sebuah kaldera yang sangat besar. Bahkan, menurut catatan, ukuran kaldera tersebut paling luas di Indonesia. Bayangkan, kaldera tersebut memiliki diameter sekitar 7 km, panjang maksimal 16 km, dan kedalaman 1,5 km.

Kini, gunung api yang secara administratif berada di dua kabupaten; Dompu dan Bima, Provinsi Nusa Tenggara Barat (NTB) itu meninggalkan kisah ajaib, bukan saja di Indonesia namun juga berdampak hingga ke berbagai penjuru dunia.


Sangat Mencekam
Tragedi itu bermula pada awal April 1815. Ketika itu kawasan di sekitar Gunung Tambora mulai bergetar. Getaran itu semakin menguat pada 10 April 1815, pukul 19.00 waktu setempat. Sejak saat itu hingga lima hari, ledakan Gunung Tambora mencapai klimaksnya.

Pada malam hari, dari kejauhan Tambora memang benar-benar terang benderang lantaran api yang terus memancar dari puncak gunung tersebut. Suasananya sangat mencekam. Gunung itu seolah berubah menjadi aliran api yang sangat besar.

Pada saat bersamaan, letusan itu juga memuntahkan gas panas, abu vulkanik, dan batu-batu ke arah bawah sejauh 20 km hingga ke laut. Desa-desa di sekitar Tambora pun musnah dilalap aliran piroklastik tersebut.

Menurut Haris Firdaus dalam bukunya berjudul Misteri-misteri Terbesar Indonesia (2008), tiga kerajaan kecil hangus dan hancur terkena lahar dan material letusan Gunung Tambora. Ketiga kerajaan itu adalah Pekat yang berjarak sekitar 30 km sebelah barat dari Tambora. Lalu, Kerajaan Sanggar berjarak 35 km sebelah timur Tambora, dan Kerajaan Tambora berjarak 25 km dari gunung tersebut.


Hampir semua penghuni di tiga kerajaan tersebut tewas. Hanya dua orang yang berhasil selamat. Padahal, lokasi ketiga kerajaan itu tadinya sudah diusahakan cukup aman dari dampak letusan gunung api.

Letusan Gunung Tambora juga membawa material longsoran yang sangat besar ke laut. Longsoran itu menimbulkan tsunami di berbagai pantai di Indonesia seperti Bima, Jawa Timur, dan Maluku. Ketinggian tsunami tersebut ditaksir mencapai 4 meter.

Bukan hanya itu, ledakan dahsyat tersebut juga menebarkan abu vulkanik hingga ke Jawa Barat dan Sulawesi Selatan. Bahkan bau nitrat juga tercium hingga ke Batavia (kini Jakarta). Hujan besar disertai jatuhnya abu juga terjadi.

Menurut para geolog, letusan itu merupakan bencana alam terbesar sepanjang sejarah. Bayangkan, dibandingkan dengan letusan Gunung Krakatau yang terjadi pada Agustus 1883, ledakan Gunung Tambora lebih dahsat empat kali lipatnya.


Letusan Gunung Tambora itu terdengar hingga ke Pulau Sumatera, Makassar, dan Ternate sejauh 2.600 km. Abunya juga diterbangkan sejauh 1.300 km dengan ketinggian 44 km dari permukaan tanah. Volume debu ditaksir mencapai 400 km3.

Saking tebalnya debu-debu yang berterbangan di langit, sepanjang daerah dengan radius 600 km dari gunung tersebut terlihat gelap gulita selama dua hari. Maklum, sinar matahari tak mampu menembus tebalnya abu-abu tadi.

Daerah paling menderita tentu saja yang berdekatan dengan lokasi Gunung Tambora. Menurut ahli botani Swis, Heinrich Zollinger, dalam seketika letusan ini menewaskan sekitar 10.000 orang.

Setelah itu, jumlah kematian karena kelaparan di Sumbawa mencapai 38.000 orang dan di Lombok 10.000 orang. Sumber lain menyebutkan, letusan itu telah menyusutkan populasi penduduk Sumbawa hingga tersisa hanya 85.000 orang.

Jumlah Korban Meluas
Bukan hanya itu. Jumlah korban tewas juga meluas hingga ke Pulau Bali, yakni mencapai 10.000 orang. Dampak berikutnya, sebanyak 49.000 orang tewas karena penyakit dan kelaparan.

Mengapa terjadi bencana kelaparan yang berkepanjangan? Ada beberapa alasan. Pertama, semua tumbuhan di Pulau Sumbawa ketika itu hancur total akibat tertutup abu tebal dan dilalap api.

Kedua, selama dua minggu awan tebal masih menyelimuti daerah-daerah di sekitar Gunung Tambora, termasuk Bali. Dampaknya, banyak tanaman budidaya hancur dan gagal panen.
Ketiga, partikel-partikel abu itu dalam jangka waktu lama masih berada di atmofer dengan ketinggian 10 – 30 km. Akibatnya, siklus iklim menjadi tak menentu dan petani pun tidak bisa memanen tanaman budidayanya.

Kekacauan iklim juga melanda kawasan Eropa, Amerika Serikat, dan Kanada. Setahun setelah letusan itu, pada 1816, kawasan tersebut mengalami tahun tanpa musim panas. Cuaca di kawasan tersebut berubah total. Maklum, partikel abu tadi masih membungkus atmosfer bumi sehingga menghalangi sinar matahari menerobos ke permukaan tanah.

Paceklik pun melanda Kanada, AS, Inggris, dan lain-lain. Udara beku yang terjadi di negara-negara tersebut menghapuskan impian para petani. Penduduk pun kekurangan bahan makanan.
Dampak terparah dialami Irlandia. Di sana curah hujan dingin terjadi hampir sepanjang musim panas. Sekitar 65.000 orang mati kelaparan dan terkena wabah tipus. Wabah ini lalu menyebar ke Eropa dan menewaskan 200.000 orang.

Letusan Gunung Tambora memang tragis. Letusan itu melenyapkan ratusan ribu manusia, baik mereka yang terkena dampak langsung maupun tak langsung. Kisah memilukan ini sesuai dengan nama Tambora yang berasal dari dua kata; ta dan mbora yang berarti ajakan menghilang.

Menurut mitos yang berkembang, masyarakat di sekitar gunung percaya, kabarnya ada sekitar 4.500 pendaki, pemburu, dan penjelajah yang hilang. Mereka itu tak pernah ditemukan di Gunung Tambora yang kini diselimuti hutan dengan aneka bunga anggrek yang sangat mempesona.

NAPOLEON, RAFFLES, dan TAMBORA
Letusan hebat Gunung Tambora pada April 1815 bukan saja melumat dan meluluhlantakkan tiga kerajaan kecil di Pulau Sumbawa. Lebih dari itu, nun jauh di daratan Eropa, tepatnya di Belgia, pasukan tentara di bawah komando penguasa Prancis, Jenderal Napoleon Bonaparte harus bertekuk lutut di tangan Inggris dan Prussia.

Ya, tiga hari setelah Tambora meletus dahsyat, tepatnya pada 18 Juni 1815, pasukan Napolean terjebak musuh. Pasalnya, di sepanjang hari itu cuaca memburuk. Hujan terus mengguyur kawasan tersebut. Padahal, tentara Prancis itu sedang menuju laga pertempuran.

Akibat cuaca buruk, roda kereta penghela meriam terjebak lumpur. Semua kendaraan tak bisa melaju dengan mulus. Tanahnya licin, berselimutkan salju. Maklum, abu tebal dari letusan Gunung Tambora masih bertebaran di atmosfer sehingga menghalangi sinar matahari yang jatuh ke bumi.

Perang Waterloo itu menjadi kisah tragis bagi Napoleon. Kehebatan Napoleon dalam menundukkan musuh-musuhnya berakhir sudah. Ia pun menyerah kalah. Jenderal itu lalu dibuang ke Pulau Saint Helena, sebuah pulau kecil di selatan Samudra Atlantik. Di pulau terpencil itulah ia menghabiskan waktunya hingga meninggal dunia pada 1821 akibat serangan kanker.

Kenneth Spink, seorang pakar geologi berteori, bahwa cuaca buruk akibat letusan Gunung Tambora menjadi salah satu pemicu kekalahan Napoleon. Pada pertemuan ilmiah tentang Applied Geosciences di Warwick, Inggris (1996), Spink mengatakan bahwa letusan Gunung Tambora telah berdampak besar terhadap tatanan iklim dunia kala itu, termasuk cuaca buruk di Waterloo pada Juni 1815.

Di Yogyakarta, letusan Tambora mengagetkan Thomas Stamford Raffles. Gubernur Jenderal Britania Raya di Jawa yang berkuasa pada tahun 1811-1816 itu tadinya mengira ledakan itu berasal dari suara tembakan meriam musuh. Wajar saja demikian karena ketika itu teknologi komunikasi (telegram) memang belum tercipta sehingga letusan itu tak bisa disampaikan ke berbagai penjuru daerah dalam waktu yang relatif cepat.

Takut diserang musuh, Raffles pun lalu mengirim tentara ke pos-pos jaga di sepanjang pesisir untuk siap siaga. Perahu-perahu pun disiagakan. Apa boleh buat, dugaan Raffles keliru. Tak ada serangan musuh.

source: http://jakarta45.wordpress.com/2009/09/13/lintasan-sejarah-napoleon-takluk-akibat-tragedi-gunung-tambora/ http://www.taukahkamu.com/2010/10/sejarah-meletusnya-gunung-tambora-dan.html
Description: Melihat Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Melihat Dahsyatnya Letusan Gunung Tambora

Wednesday, November 11, 2009

Foto-Foto Terbaru Dari Letusan Gunung Merapi

Gunung Merapi di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, Selasa (26/10) sekitar pukul 17.00 WIB, menyemburkan awan panas atau oleh warga setempat dikenal dengan sebutan “wedus gembel”.

Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi
Foto Letusan Gunung Merapi

sumber
Description: Foto-Foto Terbaru Dari Letusan Gunung Merapi Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Foto-Foto Terbaru Dari Letusan Gunung Merapi

Wednesday, June 24, 2009

Letusan Vesuvius

Vesuvius Gunung Vesuvius (bahasa Italia: Monte Vesuvio) , tanggal 25 Agustus 79 SM (2000 tahun lalu) mengejutkan dunia dengan letusan nya yang akan dikenang dalam sejarah, berada pada bagian timur Napoli Italia (40° 45′ 2″ LU, 14° 29′ 23″ BT ). Letusannya sendiri telah menghancurkan dan mengubur kota Pompeii setinggi 5-6 meter dengan abu abu vulkanik dan lahar panas hingga ditemukan kembali pada abad 18. Saat di temukan kota Pompeii relatif utuh dan juga ditemukan mayat mayat manusia yang berupa kerangka dan juga yang relatif utuh dibalut abu vulkanik sehingga masih terlihat bentuknya.
Ledakan tersebut memakan korban jiwa yang begitu besar dan cerita mengenai ledakan Vesuvius ini diabadikan oleh Pliny,Jr (keponakan salah satu perwira angkatan laut romawi waktu itu). Tulisan mengenai kesaksian Pliny tersebut sempat di perdebatkan oleh para ahli karena meragukan gambaran ledakan yang di tulis dalam bukunya, namun pada akhirnya para ilmuwan merehabilitasi namanya karena di anggap ledakan seperti itu benar – benar bisa terjadi (yang kemudian dinamakan Pliny Eruption).
Kota Pompeii sendiri merupakan sebuah kota dalam kekuasaan kerajaan Romawi, dibangun dengan Arsitektur yang mengagumkan serta telah meletakkan dasar dasar perkotaan dengan baik, seperti peletakkan bangunan lebih tinggi 20-30 cm dari tanah datar dan juga jalan jalan lebar serta tersedianya saluran air (riol). Dan adanya batu pijakan pada perempatan jalan sehingga orang yang melintasi saat hujan tidak basah jubahnya. Orang orang saat itu menggunakan keledai dan kereta kuda sebagai alat transportasi dalam kota nya. Kehidupan di Pompeii waktu itu konon menurut sebuah sumber menyimpan kehidupan kamaksiatan sehingga Tuhan mengazabkan letusan tersebut untuk menghilangkan kota itu, waalahuallam bishowab (bukti berupa mayat mayat beku yang sedang melakukan persetubuhan secara bebas bahkan sejenis atau homoseksual banyak ditemukan di daerah penggalian, serta banyaknya tempat tempat pelacuran). Sebuah bisnis disana cenderung aneh, yaitu bisnis memperjual belikan air urin untuk di jual dan di beli oleh pengusaha pengusaha Laundry sebagai bahan pencuci pakaian ( konon asam dalam urin menghilangkan lemak pada pakaian ) ini dibuktikan di temukannya beberapa laundry besar dan bak bak pencucian besar, uniknya pekerjaan mencuci ini di lakukan oleh budak budak yang pada jaman tersebut di perjual belikan. Ledakan Vesuvius sendiri di buka dengan mengepul nya asap yang membumbung tinggi yang kemudian di ikuti oleh hujan batu apung yang menghujani kota Pompeii, batu batu apung ini membuat dinding dan atap rumah rumah jebol karena kelebihan beban. Gempa gempa kecil juga sempat menggoyang kota itu akibat dari aktivitas magma yang berlebihan di bawah kerak bumi. Dan beberapa jam kemudian gas gas beracun memenuhi kota dan membuat penduduk nya meregang nyawa. Tahapan tahapan tersebut cukup membuat rakyat pompeii seakan dibuat mati secara perlahan lahan dan tanpa bisa menyelamatkan diri. Aliran Piroklastik menjadi penutup dari tahapan tahapan tersebut. Banyak mayat yang ditemukan dalam keadaan kerangka kepala terpecah dikarenakan panas yang berlebihan, jadi bisa di bayangkan keadaan waktu letusan terjadi. Piroklastik sendiri merupakan salah satu hasil letusan gunung berapi yang bergerak dengan cepat dan terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan (diketahui sebagai tefra). Aliran ini dapat bergerak dari gunung berapi dengan kecepatan 700 km/h. Gas dapat mencapai temperatur diatas 1000 derajat Celsius.
Image and video hosting by TinyPic
Vesuvius merupakan sebuah letusan yang konon terbesar dalam sejarah, namun beberapa mengatakan kalau letusan Tambora (Dompu,sumbawa, Indonesia) pada tahun 1815 yang suara ledakan nya terdengar sampai beribu ribu mil dan awan yang mengepul membumbung setinggi Stratosfer pada level 43 Km! Ledakan ini membuat Eropa dan Amerika mengalami gelap karena sinar matahari terhalang abu vulkan yang telah mengorbit bumi dan menimbukan efek fantastis berupa warna kemerahan pada saat sore hari. Bahkan di eropa terjadi gagal panen akibat letusan Tambora tersebut. Mungkin dilain tulisan akan saya angkat mengenai Letusan Tambora ini. So..jangan lupa kembali ke Blog saya ini.
Image and video hosting by TinyPic

Sumber: http://achtungpanzer.blogspot.com/2009/04/letusan-vesuvius-vesuvius-eruption.html
Description: Letusan Vesuvius Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Letusan Vesuvius

Letusan Vesuvius

Vesuvius Gunung Vesuvius (bahasa Italia: Monte Vesuvio) , tanggal 25 Agustus 79 SM (2000 tahun lalu) mengejutkan dunia dengan letusan nya yang akan dikenang dalam sejarah, berada pada bagian timur Napoli Italia (40° 45′ 2″ LU, 14° 29′ 23″ BT ). Letusannya sendiri telah menghancurkan dan mengubur kota Pompeii setinggi 5-6 meter dengan abu abu vulkanik dan lahar panas hingga ditemukan kembali pada abad 18. Saat di temukan kota Pompeii relatif utuh dan juga ditemukan mayat mayat manusia yang berupa kerangka dan juga yang relatif utuh dibalut abu vulkanik sehingga masih terlihat bentuknya.
Ledakan tersebut memakan korban jiwa yang begitu besar dan cerita mengenai ledakan Vesuvius ini diabadikan oleh Pliny,Jr (keponakan salah satu perwira angkatan laut romawi waktu itu). Tulisan mengenai kesaksian Pliny tersebut sempat di perdebatkan oleh para ahli karena meragukan gambaran ledakan yang di tulis dalam bukunya, namun pada akhirnya para ilmuwan merehabilitasi namanya karena di anggap ledakan seperti itu benar – benar bisa terjadi (yang kemudian dinamakan Pliny Eruption).
Kota Pompeii sendiri merupakan sebuah kota dalam kekuasaan kerajaan Romawi, dibangun dengan Arsitektur yang mengagumkan serta telah meletakkan dasar dasar perkotaan dengan baik, seperti peletakkan bangunan lebih tinggi 20-30 cm dari tanah datar dan juga jalan jalan lebar serta tersedianya saluran air (riol). Dan adanya batu pijakan pada perempatan jalan sehingga orang yang melintasi saat hujan tidak basah jubahnya. Orang orang saat itu menggunakan keledai dan kereta kuda sebagai alat transportasi dalam kota nya. Kehidupan di Pompeii waktu itu konon menurut sebuah sumber menyimpan kehidupan kamaksiatan sehingga Tuhan mengazabkan letusan tersebut untuk menghilangkan kota itu, waalahuallam bishowab (bukti berupa mayat mayat beku yang sedang melakukan persetubuhan secara bebas bahkan sejenis atau homoseksual banyak ditemukan di daerah penggalian, serta banyaknya tempat tempat pelacuran). Sebuah bisnis disana cenderung aneh, yaitu bisnis memperjual belikan air urin untuk di jual dan di beli oleh pengusaha pengusaha Laundry sebagai bahan pencuci pakaian ( konon asam dalam urin menghilangkan lemak pada pakaian ) ini dibuktikan di temukannya beberapa laundry besar dan bak bak pencucian besar, uniknya pekerjaan mencuci ini di lakukan oleh budak budak yang pada jaman tersebut di perjual belikan. Ledakan Vesuvius sendiri di buka dengan mengepul nya asap yang membumbung tinggi yang kemudian di ikuti oleh hujan batu apung yang menghujani kota Pompeii, batu batu apung ini membuat dinding dan atap rumah rumah jebol karena kelebihan beban. Gempa gempa kecil juga sempat menggoyang kota itu akibat dari aktivitas magma yang berlebihan di bawah kerak bumi. Dan beberapa jam kemudian gas gas beracun memenuhi kota dan membuat penduduk nya meregang nyawa. Tahapan tahapan tersebut cukup membuat rakyat pompeii seakan dibuat mati secara perlahan lahan dan tanpa bisa menyelamatkan diri. Aliran Piroklastik menjadi penutup dari tahapan tahapan tersebut. Banyak mayat yang ditemukan dalam keadaan kerangka kepala terpecah dikarenakan panas yang berlebihan, jadi bisa di bayangkan keadaan waktu letusan terjadi. Piroklastik sendiri merupakan salah satu hasil letusan gunung berapi yang bergerak dengan cepat dan terdiri dari gas panas, abu vulkanik, dan bebatuan (diketahui sebagai tefra). Aliran ini dapat bergerak dari gunung berapi dengan kecepatan 700 km/h. Gas dapat mencapai temperatur diatas 1000 derajat Celsius.
Image and video hosting by TinyPic
Vesuvius merupakan sebuah letusan yang konon terbesar dalam sejarah, namun beberapa mengatakan kalau letusan Tambora (Dompu,sumbawa, Indonesia) pada tahun 1815 yang suara ledakan nya terdengar sampai beribu ribu mil dan awan yang mengepul membumbung setinggi Stratosfer pada level 43 Km! Ledakan ini membuat Eropa dan Amerika mengalami gelap karena sinar matahari terhalang abu vulkan yang telah mengorbit bumi dan menimbukan efek fantastis berupa warna kemerahan pada saat sore hari. Bahkan di eropa terjadi gagal panen akibat letusan Tambora tersebut. Mungkin dilain tulisan akan saya angkat mengenai Letusan Tambora ini. So..jangan lupa kembali ke Blog saya ini.
Image and video hosting by TinyPic

Sumber: http://achtungpanzer.blogspot.com/2009/04/letusan-vesuvius-vesuvius-eruption.html
Description: Letusan Vesuvius Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Letusan Vesuvius

Tuesday, June 2, 2009

Foto foto letusan gunuang api bawah laut

Sebagai akibat gempa bumi berkekuatan 4.4 skala Richter pada 13 Maret 2009, salah satu gunung api bawah laut di Pulau Tonga meletus. Pulau ini berada di Samudera Pasifik Selatan. Fotografer Dana Stephenson, Trevor Gregory dan Lothar Slabon berhasil mengabadikan momen langka ini.

(LOTHAR SLABON/AFP/Getty Images)

(Dana Stephenson/Getty Images)

18 Maret 2009 Letusan Gunung Api bawah laut di lepas pantai  Nuku’Alofa, Tonga. Asap, uap dan abu terlontar hingga ratusan meter ke udara. (Dana Stephenson/Getty Images)

Selasa 17 Maret 2009, Gunung Api bawah laut di lepas pantai Tonga melemparkan awan, asap, uap dan abu hingga ribuan meter ke angkasa lautan Pasifik Selatan. Letusan di laut ini sekitar 10 km dari sebelah barat daya pantai Pulau Tongapu. Di sekitar pulau ini terdapat sekitar 36 Gunung Api bawah laut. (AP Photo/Trevor Gregory)

Detik-detik letusan gunung api(Dana Stephenson/Getty Images)

Rangkaian foto seri keempat letusan Gunung Api bawah laut. 18 Maret 2009. Fotografer Dana Stephenson(Dana Stephenson / Getty Images).

Rangkaian foto seri keenam letusan Gunung Api bawah laut. 18 Maret 2009. Fotografer Dana Stephenson(Dana Stephenson / Getty Images).

Sumber: http://woamu.blogspot.com/2009/09/foto-foto-leteusan-gunuang-api-bawah.html

Description: Foto foto letusan gunuang api bawah laut Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Foto foto letusan gunuang api bawah laut

Foto foto letusan gunuang api bawah laut

Sebagai akibat gempa bumi berkekuatan 4.4 skala Richter pada 13 Maret 2009, salah satu gunung api bawah laut di Pulau Tonga meletus. Pulau ini berada di Samudera Pasifik Selatan. Fotografer Dana Stephenson, Trevor Gregory dan Lothar Slabon berhasil mengabadikan momen langka ini.

(LOTHAR SLABON/AFP/Getty Images)

(Dana Stephenson/Getty Images)

18 Maret 2009 Letusan Gunung Api bawah laut di lepas pantai  Nuku’Alofa, Tonga. Asap, uap dan abu terlontar hingga ratusan meter ke udara. (Dana Stephenson/Getty Images)

Selasa 17 Maret 2009, Gunung Api bawah laut di lepas pantai Tonga melemparkan awan, asap, uap dan abu hingga ribuan meter ke angkasa lautan Pasifik Selatan. Letusan di laut ini sekitar 10 km dari sebelah barat daya pantai Pulau Tongapu. Di sekitar pulau ini terdapat sekitar 36 Gunung Api bawah laut. (AP Photo/Trevor Gregory)

Detik-detik letusan gunung api(Dana Stephenson/Getty Images)

Rangkaian foto seri keempat letusan Gunung Api bawah laut. 18 Maret 2009. Fotografer Dana Stephenson(Dana Stephenson / Getty Images).

Rangkaian foto seri keenam letusan Gunung Api bawah laut. 18 Maret 2009. Fotografer Dana Stephenson(Dana Stephenson / Getty Images).

Sumber: http://woamu.blogspot.com/2009/09/foto-foto-leteusan-gunuang-api-bawah.html

Description: Foto foto letusan gunuang api bawah laut Rating: 5.0 Reviewer: garry bale ItemReviewed: Foto foto letusan gunuang api bawah laut
Bang Rizal Proudly Powered by Blogger